Rabu, 28 Desember 2011

Loetoeng (27 Januari 1990 - 6 November 2011)

Tulisan ini ada karena aku tidak bisa melepasmu, adikku. Aku tidak bisa melihatmu untuk terakhir kalinya. Bahkan aku tidak ada di sampingmu saat kau benar-benar tersiksa karena sakitmu. Maaf loetoeng, aku bukan kakak yang baik buatmu.

Banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, adikku. Banyak perasaan untukmu yang belum tersampaikan. Kau tahu, kita sudah janji mau merayakan natal tahun ini bersama-sama kan? Sekarang aku justru tidak ingin lagi merayakan natal di kota itu. Mungkin menurutmu berlebihan tapi memang seperti itu. Merayakn natal di sana akan mengingatkan perasaan menyesal itu lagi karena aku tidak bisa melihatmu untuk terakhir kalinya.
ELISA HOTMARIA MANURUNG. Lahir 27 Januari 1990. Hanya 4 bulan lebih muda dariku. Tapi dia bisa menempatkan diri sebagai adik sekaligus sahabat yang baik. Dia bisa melengkapi kesepianku sebagai anak tunggal.
Sejak kecil aku terbiasa bermain bersamanya karena rumah kami bersebelahan. Semua tingkah nakal pasti kami lakukan bersama-sama. Mulai dari lompat pagar rumah orang, melempari atap rumah orang, menggertak anak orang, sampai iseng ngerjain orang via telepon rumah. Kami memang tidak terlalu bergabung dengan anak-anak di daerah perumahan kami, karena kami lebih sering bermain berdua, terkadang bertiga dengan adiknya, Darly.
Berhubung umur kami hanya beda 4 bulan, dia membuat aturan. Mulai September sampai Januari, dia bakal memanggilku kakak. Januari sampai September, dia cukup memanggilku dengan Ruth. Tapi gak jarang juga kalau dia lagi ada maunya, menyebutku kakak walaupun bukan sedang antara September dan Januari.
Dia selalu ada saat aku terjatuh dengan masalah di keluargaku. Dia selalu bersedia menemaniku dan berusaha menjadi sosok yang dewasa menguatkan aku. Dia selalu menyisihkan makanannya untuk dibagikan padaku. Menyediakan sarapan saat aku tidur di rumahnya. Mentraktir aku ini-itu supaya aku senang.
Kepindahanku ke Jogja untuk kuliah membuat komunikasi antara kami berdua semakin berkurang. Tepat di saat aku akan berangkat, dia memilih untuk tidak melepasku secara langsung. Dia hanya menitipkan sebuah boneka beruang kecil dan secarik surat yang menceritakan kesedihannya harus pisah dengan aku. Saat itu aku membacanya sambil tersenyum tapi sekarang, mengingatnya saja sudah berhasil membuatku menangis.
Asal muasal nama Loetoeng, yang merupakan panggilan kami satu sama lain, adalah saat liburan keluarga besar BRI ke Tuk-tuk, Samosir. Di sepanjang jalan di Parapat ada banyak monyet. Spontan si Among bilang “kalian berdua mirip kayak lutung itu. Kalau udah makan, pasti bisa tenang”. Dari situ mulailah panggilan loetoeng mulai muncul. Bukan hanya kami berdua yang mengakui panggilan itu. Kedua orang tua kami bahkan adik2nya juga ikut-ikutan memanggil kami loetoeng. Memori yang manis darinya.
Di kepulanganku tahun 2009, aku mengunjunginya ke asrama Sari Mutiara Medan dan dia meminta sebuah baju dariku. Itulah hadiah terakhirku untuknya.
Selama terpisah jarak, ada satu hal yang selalu ditanyakan setiap kali dia telepon atau sms, bahkan di saat dia sakit tetap bertanya soal cowok. Hal terakhir yang dia katakan “Kalau sampai natal ini kau gak punya pacar, kau kujodohkan sama si Hendra”. Dan sekarang itu hanya tinggal kata-kata karena ternyata 2 bulan sebelum natal dia sudah meninggalkanku.
Aku selalu terlambat menerima kabar tentangnya. Saat dia koma karena lupus selama 20 hari di Medan desember tahun lalu, aku pun tahu beberapa bulan kemudian. Selalu saja aku tidak ada di saat dia butuh support. Perkembangannya maju pesat dan dia sudah bisa kembali kuliah walaupun harus extra keras mengejar ketinggalannya. April 2011 aku menyempatkan pulang karena Inong sakit. Setelah setahun lebih, aku bertemu lagi dengan elisa. Pagi itu aku memeluknya erat. Benar-benar merindukannya.
Kami merayakan paskah bersama di HKBP bersama keluarganya. Setelah itu aku ziarah ke motung bersama keluarganya dan menghabiskan waktu di Ajibata, Danau Toba. Hari paskah aku habiskan bersama dengan elisa, bukan dengan Among dan Inong. Seolah mengerti, mereka langsung saja mengijinkanku pergi bersama elisa. Esok malamnya, kami menerjang hujan naik motor demi jagung bakar favoritenya di depan RSU. Tidak terlihat kalau ditubuhnya sedang ada penyakit yang kapan saja bisa kambuh. Bukan Lupus yang merenggutnya tapi penyakit lain sebagai efek pengobatannya.
Tidak pernah sekalipun dia menunjukkan kesedihannya padaku. Dia bahkan masih sempat wisuda menyelesaikan study-nya di Akbid untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Di saat sakitnya dia pun sempat bercanda. Malam itu si Inong menelpon tepat di saat berkunjung ke rumah elisa. “Toeng, perutku sekarang besar loh. Udah kayak orang hamil. Aku udah kayak Maria, hamil karena Yesus”
Saat itu aku hanya bisa membalas dengan candaan walaupun hatiku sedih mendengarnya.
Seminggu kemudia dia berangkat ke Penang. Entah bagaimana caranya, karena kata Inong untuk duduk aja dia sudah merasa sesak. Lebih dari seminggu dia di sana. Aku hanya bisa bertanya ke darly, adiknya, tentang perkembangan elisa. Dokter memvonisnya gagal ginjal dan sudah menyerah. Air mataku menetes kembali mendengar kabar itu.  Dengan robin, aku menceritakan ketidakrelaanku jika sesuatu terjadi padanya. Aku tidak siap untuk semua itu.
Minggu, 6 November 2011.
Minggu pagi ini aku ibadah gereja bersama Robin. Setelah ibadah, kami menyempatkan sarapan di Lontong Sumatera. Langit pagi itu mendung dan akhirnya hujan. Suasanan hatiku benar-benar tidak enak. Tepat di saat makanan dihidangkan, aku mendapatkan SMS dari astrid.
“Kak, kakak udah tau kak elisa meninggal”
Perasaanku campur aduk. Aku menangis tapi tidak ada air mata yang jatuh. Tidak percaya. Itu yang aku rasakan. Kecewa, itu yang aku rasakan. Aku marah untuk semuanya. Bukan sekarang seharusnya. Kami bahkan sudah berjanji untuk merayakan natal bersama. Hujan semakin deras. Mungkin itu mewakili hatiku yang menangis.
10.45 WIB dia pergi kembali ke Allah. Dan memang aku tidak bisa merelakannya. Aku ingin segera pulang ke sana tapi aku tidak bisa. Saat itu aku sedang Ujian Mid dan kondisi benar-benar tidak memungkinkan. Aku merasa sangat bersalah.
Aku terduduk lemas di kos dengan tangis yang tidak berhenti. Aku menghadapinya sendiri di sini. Elisa bahkan tidak mampir untuk pamit denganku. Kenapa dia tidak mengucapkan apapun sebelum pergi.
Aku bukan termasuk orang yang mudah menangis. Tapi jika tentang dia, air mata ini bisa turun dengan mudahnya. Mengingatnya membuatku merasa bersalah, merasa kosong dan kehilangan, merasa bodoh, dan merasa tidak rela.
Seminggu aku seperti orang linglung. Berharap dia datang menemuiku tapi sampai sekarang dia tidak muncul. Aku masih menunggunya untuk datang. Seorang guru bimbingan kami di SSC, pak Monang, bermimpi ada yang mengantarkan sebuah peti mati ke sekolah. Aku mengetahui cerita ini dari bang Mars. Kenapa aku tidak punya firasat apa-apa?
Dia dan aku mungkin tidak punya hubungan darah tapi hubungan ini jauh lebih dalam dari hubungan darah. Saat aku mengetik semua ini, aku merasakan kerinduan tentangnya. Lagu Dear God mengiringi setiap ketikan jariku untuknya.

Selamat jalan, adikku, sahabatku, temanku, loetoengku..

Kamis, 22 September 2011

Hangatnya Malam Keakraban di Abusyo Tahun Ini

Ada satu hal yang membedakan Malam Keakraban (Makrab) Abusyo dengan Makrab lainnya, yaitu kekeluargaan. Sesuai dengan nama dan dasarnya, Abusyo merupakan paguyuban Alumni SMA Budi Mulia Pematangsiantar yang ada di Yogyakarta berdasarkan asas kekeluargaan. Rasa inilah yang membuat suasana selama Makrab bukan hanya untuk  berkumpul tapi juga merasakan hangatnya keluarga di Yogyakarta.
Tahun ini Makrab Abusyo diadakan di Pantai Sadranan, Gunung Kidul yang masih bersih dan sedikit terisolasi karena benar-benar susah mendapatkan sinyal. Ya, ada untungnya juga. Keakraban lebih terasa karena semuanya focus pada acara, tidak lagi berkutat dengan dunia luar melalui handphone. Makrab selama tiga hari dua malam, 16-18 September 2011, berjalan dengan hangat dan suka lewat games lucu, lebih tepatnya iseng, dan konsep yang humor.
Kekeluargaan semakin terasa saat abang-abang angkatan atas (ehem!) juga ikut memeriahkan acara. Bahkan bang Johan Hutagalung rela jauh-jauh dari Jekardha untuk ikut acara Makrab Abusyo karena ada kerinduan berkumpul bersama keluarga Abusyo. Bisa dilihat seberapa erat kekeluargaan di Abusyo ketika kita memberikan sedikit hati kita pada keluarga kita ini.
Banyak adik-adik angkatan 2011 yang  terlihat malu-malu pada awalnya, dan malu-maluin pada akhirnya. Perasaan ‘baru’ dan ‘segan’ masih ada dalam pikiran mereka. Mungkin karena melihat tingkah kakak dan abangnya yang jelas memang lebih sering malu-maluin, mereka jadi ikut terbawa suasana sehingga kekakuan jadi sedikit mencair.
Jika ada yang berkata bahwa kegiatan Abusyo hanya tentang main-main, apa salahnya? Dalam keluarga kita harus bisa merasa bahagia dan terhibur. Dengan kegiatan yang seabrek di kampus dan organisasi lainnya, justru di Abusyo kita mendapat hiburan dan rasa kekeluargaan lewat bermain yang membuat kita lebih fresh. Jika semua hal hanya berbau serius dan underpressure yang ada juga kita semakin stress. Di Abusyo justru kita diajak pada waktu-waktu tertentu untuk sedikit fun dan melepaskan penat.
Dalam keluarga, kita memiliki hak untuk merasa nyaman, hangat, dan sukacita. Di dalam Abusyo, semua itu ditawarkan. Tapi di dalam keluarga kita memiliki kewajiban untuk saling menjaga dan membantu agar keluarga kita tetap utuh. Kita membutuhkan kebersamaan untuk tetap satu sebagai keluarga. Jadi semua akan balance pada akhirnya.
Selamat dating untuk adik-adik 2011 di Keluarga ABUSYO. Sekarang kita adalah keluarga, begitu juga untuk hari selanjutnya. Semangat dan ingat apa focus kalian dating ke Yogyakarta ini. Tetap saling mendukung, ya!
Ruth Hutapea
21 September 2011

Rabu, 07 September 2011

catatan tahunan-22

"Selamat Ulang Tahun, Ruth Vanessa Hutapea yang ke 22!!!"

Tahun ini aku merayakannya dengan cara yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Yaah, tetap dengan menghilangkan diri sih, tapi baru kali ini aku menghilang sampai malam sekali.
Sedikit kecewa karena ada beberapa orang yang lupa ulang tahun saya, termasuk si Among T.T :'( Bahkan dari seseorang yang jauh di sana.. #sad-theme-song
Banyak hal sederhana yang tersusun secara kebetulan tepat pada 5 September 2011. Mulai dari si Toyib Deny yang ngucapin lebih cepat 1 jam karena dia lagi ada di Bontangg. Si Basdrian Sumbayak yang sukses jadi orang pertama ngucapin Selamat Ulang Tahun tepat 00.00 WIB.
Berhubung saya Insomnia, Malam sampai Pagi saya coba merenung dan mengingat resolusi saya seperti yang saya bahas di post sebelumnya greatest-thing-in-21. masih banyak yang harus saya perbaiki dan jelas belum ada hal besar yang sudah saya lakukan.
Terima kasih untuk pasangan Felicia dan Felix yang berhasil mengganggu tidur saya (FYI yang baru 2 jam) dan menculik saya ke Amplas -___-".
Terima kasih untuk Basdrian yang udah rela nemenin saya seharian menghilang. Maaf merepotkan :p

Terima kasih untuk kakadea, anun, dan Nipo buat kado dan surprisenya. yah walaupun nifa belum ngucapin sampe sekarang :( oiya, suka banget sama albumnya!!!!sukaaaaaaaak!!! #kisshug for u galz :*
Kata-kata dari kalian bener-bener bikin tersentuh. Anun benar-benar kenal gimana saya dan selalu mengingat apapun yang saya lakukan plus kata-kata saya. Kakadea bahkan punya tanggapan 'horor' waktu pertama kali mengenal saya. kalau Nipo, gak tau deh yaaa.. dia belum melengkapi bagiannya..saya suka wishlistnyaaaa.. maaf yah kakadea udah selalu jadi orang terakhir yang tau tentang saya. waaa loph u galz *alay* 

Terima kasih buat teman-teman yang udah ngucapin..
Banyak harapan di tahun ini yang bisa membuat perbedaan di jalan hidup. tapi satu hal yang baru saja saya dapatkan dari opung saya. saya diajarkan untuk tidak mengeraskan hati terhadap teguran dari Tuhan karena teguran itulah yang akan menuntun saya dalam hidup ini. Tiba-tiba saja opung saya menelpon dan memberikan beberapa nasehat yang hampir membuat saya menangis. dan FYI aja ni ya, opung saya tidak tahu kalau kemaren saya berulang tahun. selalu ada yang spesial dariNya.
Tidak ada yang spesial tapi ini sesuatu banget yah *ala syahrini*
Puji Tuhan, selamat tambah tua Ruth :) Tetap semangat dan selalu mengandalkan Tuhan Yesus!

Selasa, 30 Agustus 2011

Aku Berbicara Tentang Cinta


“Bila kamu mencintai seseorang, biarkan dia pergi. Dan bila dia kembali, dia akan menjadi milikmu selamanya..”

Terasa tidak adil saat aku mencintai seseorang tapi tidak bisa memilikinya. Untuk apa diberikan perasaan cinta kalau aku tidak bisa memiliki dia yang aku cintai. Bahkan di saat dia juga mencintaiku, aku tidak bisa bersama dengannya. Kenapa ada cinta kalau begitu?
Karena cinta aku bisa meninggalkanmu dan karena cinta aku bisa memintamu kembali. Karena cinta aku bisa membencimu tapi karena cinta aku bisa berkorban untukmu. Karena cinta aku bisa melukaimu dank arena cinta aku bisa menangis karenamu. Cinta selalu bisa menjadi alasan untuk seribu satu tindakan.
Ketika aku mencintaimu tapi tidak bisa memilikimu, aku akan menyalahkan cinta karena datang pada waktu dan orang yang salah. Ketika kau juga mencintaiku tetapi tidak bisa memilikimu, aku akan menyalahkan cinta karena dia sangat tidak adil. Aku hanya meminta saat kita memiliki cinta, kita bisa saling memiliki. Hanya sesederhana itu.

“Cinta tidak akan pernah salah. Karena itu tidak akan pernah ada pengadilan cinta.”



Sore ini aku menonton satu produksi anak negeri karya Rizal Mantovani di RCTI yang berjudul PUPUS. Sebenarnya film ini sudah lama mendekam di laptopku tapi belum menemukan mood yang tepat untuk menonton. Film ini disajikan dengan sangat apik memancing emosi penonton untuk bisa merasakan perasaann Panji dan Cindy.




“Cinta tak selalu semudah yang kita bayangkan.”

Untuk mengerti cinta memang sulit karena cinta itu rumit. Cinta hanya bisa dimengerti dengan cara merasakannya. Cinta akan selalu membawa kebahagiaan. Kalau karena cinta kau merasakan kesedihan, itu artinya kau sedang bersiap-siap untuk merasakan kebahagiaan lain dari cinta.

Kau memilih untuk pergi maka aku akan melepaskanmu. Ketika kau kembali untukku, aku tahu kau akan menjadi milikku selamanya”

Ruth Hutapea

Senin, 22 Agustus 2011

Arti Senyum Sang Pemusik


                Tulisan ini sebenarnya sudah ingin saya luncurkan (halah!) dari berbulan-bulann yang lalu tapi berhubung sedang disibukkan oleh tugas akhir yang entah kapan kelarnya -___-“ jadi tertunda terus. Tulisan ini terinsipirasi dari acara HARMONI SCTV. Ada sesuatu yang unik, yang mungkin tidak pernah diperhatikan awam saat itu. Tapi sebelumnya saya mau mengulas sedikit tentang acara music Indonesia.
                Perkembangan musik Indonesia sebenarnya mengalami rotasi dengan fase yang sama. Dulu sekitar tahun 90-an music melayu sudah ‘musim’ karena terpengaruh oleh musik dari negeri jiran, seperti Exist. Belum lagi boyband-boyband yang terbawa arus musik western seperti Wetslife. Begitu juga konsep musik dengan band yang tidak pernah redup. Karena itu acara music di televisi lebih menonjolkan performance mereka yang –yaaaaaaaaaah…- hanya menggerakkan bibir saja tanpa benar-benar bernyanyi.
                Tapi ada terobosan baru dari salah satu stasiun TV Swasta, SCTV, dengan menampilkan konsep orchestra yang mengiringi suara emas dari penyanyi-penyanyi terbaik Indonesia. Awalnya acara ini dibuat dalam rangka ulang tahun SCTV yang ke-20. Tapi karena banyaknya request dan minta dari penontonnya, acara ini tetap dilanjutkan sebagai acara music bulanan SCTV.
                Kembali ke topik awal. Ada yang unik dari acara ini. Coba perhatikan bagaimana ekspresi pemusik saat mengiri penyanyi yang memiliki improvisasi dan semangat dalam menyanyi! Hal ini saya sadari saat orchestra mengiringi penyanyi Judika Sihotang. Kualitas Judika memang tidak perlu dipertanyakan. Jebolan Indonesian Idol ini selalu tampil prima dengan suara khasnya tanpa ada pemaksaan vocal rock-nya. –kenapa jadi bahas Judika, ya? Hihihihi-
                Tepat di saat itu, kamera selalu menyorot senyum yang terulas dari sang pemusik. Biasanya yang disorot itu pianis yang mengiringi. Bahkan bukan hanya tersenyum, mereka menjadi lebih bersemangat bermain music. Ini terlihat dari anggukan kepala mereka mengikuti beat musik.
                Saya memang bukan pemusik ataupun someone yang punya basic musik. Tapi dari yang saya lihat, aka nada kepuasan tersendiri bagi pemusik saat mengiringi penyanyi yang mengerti harus berbuat apa. Secara otomatis perasaan dan mood-nya akan baik karena merasa sehati dengan penyanyi untuk terdorong bermain secara total. Pemusik jadi ikut tertantang untuk mengimprovisasi permainannya mengikuti si penyanyi.
                Tidak jauh beda dengan hidup kita. Kita cenderung ingin selalu lebih dari orang lain. Yang jadi masalah itu cara yang ditempuh. Kalau kita menanggapi positif dan dijadikan motivasi sih bisa jadi seperti pemusik yang tersenyum puas pada akhirnya. Kalau negatif, yang ada kita tidak tersenyum tapi semakin cemberut melihat kelebihan orang lain. Seperti artikel sebelumnya tentang positive thinking, kali ini juga berlaku hal yang sama. Semua selalu tentang pilihan.
Ruth Hutapea

Sabtu, 07 Mei 2011

Siapa yang Dipelihara oleh Negara?

“Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara”
Oke! Mari kita lihat dan tinjau lebih dalam (halah!  Gaya tenan..) arti kalimat di atas. Kalimat itu ada dan tertulis jelas dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 34. Saya yakin semua udah hapal luar kepala (sampai berceceran dan lalat-lalatan *pinjam istilah guru saya*).
Siapa itu yang dikatakan fakir miskin?
            Fakir miskin, otomatis termasuk di dalamnya rakyat yang sangat berkekurangan dan yang tergolong miskin (muter2 deh). Tidak susah mencari contoh orang yang miskin di Indonesia yang kaya raya ini. sangat gampang! Ayo lihat bagaimana hidup mereka. Ada yang tidak punya rumah sampai membangun rumah kecilnya di atas pohon dan tinggal di sana bersama keluarga besarnya. Ada yang tidur di emperan toko, ada yang membangun rumah di perkuburan, dan ada juga yang membangun rumah kardus di kebun tetangganya yang berbaik hati meminjamkan lahan. See…..???
Dan, anak-anak terlantar itu????
            Hmmm,, kalau contoh yang ini juga banyak. Coba saja kita melirik sebentar ke bawah jembatan, banyak anak-anak yang berkeliaran di sana. Ada yang bekerja, bermain, mencopet, tidur, dan lainnya. Tapi satu hal yang sama dari mereka, MEREKA TIDAK BERSEKOLAH.
            “Buat makan saja sudah susah, apalagi buat bersekolah”
Itulah yang selalu mereka katakan ketika ditanya kenapa tidak bersekolah. Sangat miris…..!
Lalu bagaimana mereka selama ini?
            Tidak bisa dipungkiri kalau negara kita ini sedang banyak masalah. Yang paling hot saat ini adalah sekelompok orang yang pintar yang sudah mati rasa yang dengan mudahnya menghabisi nyawa orang lain dengan ‘petasan kebanggaan’ miliknya. Coba saja kalau uang yang mereka peroleh dialihkan untuk membangun sekolah jalanan. Dengan kepintaran yang mereka miliki pasti sangat membantu memajukan pengetahuan anak-anak jalanan.
            Satu lagi yang memalukan. Para wakil rakyat sibuk study tour yang dilengkapi foto-foto mereka yang terlihat menyenangkan saat liburan. Dan hasil study tour mereka adalah membangun istana megahnya yang bernilai triliunan.. iiiihhhhwwaaaaaawwww!!!!!
Dipelihara oleh negara?
            Mungkin gak sih yang dimaksud dengan dipelihara oleh negara itu dengan membangun jembatan ataupun jalan layang dan pertokoan megah untuk memfasilitasi fakir miskin dan anak terlantar tidur dan hidup? Pemikiran yang picik tetapi memang itu yang terjadi.
            Saya melihat para wakil rakyatlah yang lebih dipelihara oleh negara, sampai-sampai mereka dibangunkan istana megah dan diperbolehkan belajar ke luar negri (study tour) sedangkan rakyat miskin dibangunkan jembatan dan jalan layang serta tidak bisa memperoleh pendidikan di dalam negrinya.
            Jadi menurut teman-teman, siapa yang sebenarnya dipelihara oleh negara? Siapa yang layak disebut fakir miskin dan anak terlantar yang dipelihara oleh negara? Saya yakin teman-teman pasti tahu jawabannya…
Ruth Hutapea 

Aku (bukan) Tanah Liat

“Hidup itu cuma sekali. Itu harga mati. Kalau aku punya kesempatan lagi, aku ingin lebih banyak bermimpi karena mimpi selalu terasa lebih indah dari pada realiti.”
Dalam mimpi akulah sutradaranya. Dalam mimpi aku yang menulis skenario. Dalam mimpi aku yang menjadi pemeran utamanya. Dalam kenyataan aku hanyalah tanah liat yang terbentuk dari pandangan dan pikiran picik kehidupan.
            Aku ingin menyangkal hidupku bahagia. Aku ingin menyangkal kesempurnaan yang terlihat dari luar tapi hancur di dalam. Aku seperti tempayan tanah liat yang dipoles dan dibentuk tanpa menanyakan terlebih dahulu aku ingin seperti apa karena keyakinannya mengetahui apa yang terbaik untukku.
Aku ingin terus bermimpi menjadi bentuk yang aku inginkan. Bukan untuk dikagumi oleh orang lain tetapi untukku bisa mengagumi diriku sendiri. Rasanya pasti enak bisa menjadi apa yang aku mau dengan kuasaku sendiri. Tapi tidak mungkin aku menjadi seperti itu karena aku hanya tanah liat yang dibentuk bukan membentuk.
Aku dipuji karena kemulusanku tapi aku retak di dalam dan tidak ada yang tahu karena mereka hanya melihat dari luar. Bangga rasanya dipuji tapi hanya sesaat itu saja. Mereka harus menghancurkanku untuk tahu seperti apa aku di dalam. Setelah hancur, apakah retak itu terlihat? Kehancuran menutupi keretakan. Karena itu aku harus menjaga keberadaanku agar tidak tersentuh dan pecah. Tidak akan ada seorang pun yang akan mengerti seperti apa aku. Hanya aku dan Sang Penguasa.
Ingin rasanya mengeraskan diri agar aku tidak bisa terbentuk seperti yang diinginkannya. Tapi aku tahu itu hanya akan membuatnya putus asa dan kecewa karena aku adalah tanah liat terakhir yang ia punya sebelum kemampuannya hilang.
Ada banyak sangkalan yang aku bisa berikan sebagai tanah liat. Ada banyak bantahan juga yang tidak bisa aku hindari sebagai tanah liat walaupun aku bukan tanah liat.
Ruth Hutapea

Surat yang Tak Tersampaikan

Dear Pahlawan Wanitaku yang Paling Cantik,                 Aku bersenandung bersama isak pagi ini                 Terulang memori...