Rabu, 25 Januari 2012

LOETONG Part 3 – Kenangan Bersamanya -


Ada banyak kenangan yang sudah aku lewati bersama dia yang tidak bisa aku ingat secara rinci, my bad! -__-“ 

Sejak kecil kami selalu mengambil bagian dalam acara natal kampung (acara natal di Jl. Pisang, komplek  perumahan kami, itu juga kalau bisa dikatakan kompleks). Biasanya kami mengambil bagian di acara tarian. Hampir setiap tahun baju natal yang kami gunakan selalu sama, begitu juga dengan adiknya, Darly. Gaun merah, sepatu berlampu, dan kaos kaki berenda yang memangg sedang ternd saat itu juga sempat menjadi seragam kami bertiga. 

Setiap liburan sekolah, kami selalu bersama-sama bermain di rumahnya atau rumahku. Terkadang kami bergabung dengan anak lainnya untuk bermailn ‘alip jongkok’, ‘alip cendong’ atau petak umpet, pecah piring, dan lompat tali. Setelah bermain kami akan mandi bersama dan makan malam bersama. Itu kenangan indah saat aku dan dia masih kecil. Hal itu berlanjut sampai aku pindah rumah, kelas tiga SD ke Cantik Manis Marihat.

Walaupun aku pindah, kami tetap bermain bersama. Karena satu-dua hal, aku terpaksa tidak bisa terang-terangan bermain ke rumahnya. Jadi kebersamaan kami lebih sering terlihat di sekolah. Seiring berjalannya waktu, kami sudah semakin bebas untuk bermain ke mana saja. Hari ini, aku bisa menghabiskan liburku menemani dia berjualan di pasar bersama adiknya juga. Bahkan kami pernah dua keluarga berlibur bersama. Jenis hubungan apa yang terjadi antar kedua keluarga ini? Indah bukan?

Kalau sedang ingin melakukan perjalanan, jarang sekali kami membeli makanan. Selalu membawa makanan sendiri. Keluarganya dan keluargaku masing-masing membawa makanan yang dimasak sendiri yang pada akhirnya selalu dibagi untuk dimakan bersama-sama. Untuk makanan kecil, Nanguda (mamanya elisa) selalu membuat donat yang menjadi andalannya,  dan elisa tak ketinggalan ikut membuat godok-godok (makanann yang terbuat dari adonan tepung dan pisang) yang sealu jadi andalannya. Bisa ditebak sebenarnya masakan apa yang akan mereka bawa. Menu teri kacang sambal akan selalu ada.hehehe

Memang sudah dasarnya iseng dan sedikit preman (maklum, kebanyakan menghabiskan waktu di pasar), aku dan elisa tidak pernah segan untuk mengerjai anak-anak di belakang rumah. Entah karena keterlaluan, kami sempat ketakutan kalau-kalau ibu dari anak itu datang ke rumah kami membawa golok karena sudah membuat anaknya menangis. Jangan ditanya siapa nama anak itu, ingatanku jangka pendek kalau soal nama. #ups

Zaman SMP-SMA saat hari sabtu, aku sering menginap di rumahnya sambil mengunjungi opungku yang rumahnya tepat di sebelah rumahnya. Walaupun dengan bertambahnya aku menginap di sana kamarnya akan semakin sempit, aku selalu mendapatkan tempat yang nyaman untuk tidur bersam Elisa dan Darly.

Pagi harinya, dia akan bangun pagi-pagi untuk membeli sarapan untukku dan adik-adiknya. Bubur ataupun mie goring, ya lagi-lagi makanan kesukaannya yang otomatis jadi makanan kesukaan kami juga karena terbiasa.

Berbicara soal keisengan, teman baikku di SMP juga pernah menjadi korban keusilan kami via telepon yang akhirnya terbongkar. Memang dasar berhati baik, kami tidak ahli soal ini hahaha.

Dia akan selalu ada untukku, apalagi di saat-saat aku menghadapi fase berat dalam keluargaku. Saat itu dia akan bertindak sebagai sahabat yang akan selalu ada saat aku butuh.

Perpisahan pun terjadi saat aku harus melanjutkan kuliah di Jogja. Hari-hari sebelum aku berangkat, dia bersikap biasa saja. Sampai saat itu tiba, aku harus berangkat pagi hari ke Bandara Polonia. Dia tidak ikut melepasku. Dia hanya menitipkan sebuah bineka kecil dan sebuah surat. Aku lupa isi detail suratnya. Yang aku ingat, dia tidak mau ikut mengantarku karena dia bilang dia tidak kuat. Jadi biar boneka itu saja yang menemani aku. She is so sweet, hah? Hehehe di sini dia bertindak sebagai seorang adik yang tidak bisa ditinggal kakaknya.

Setahunn setelah kuliah, aku kembali untuk berlibur di kampung halaman. Saat itu dia sedang mengikuti test STPN di Pekan Baru. Dua hari setelah aku tiba di Siantar, dia pun pulang. Begitu sampai rumah, dia langsung ke rumahku tanpa menyimpan barang ke rumahnya. Setelah makan siang, kami mengobrol banyak sambil menonton TV di kamar dan dia pun tertidur dengan polosnya karena kecapean menempung perjalanan darat selama 12 jam.

FYI, kamarku adalah kamar orang tuaku. Setiap aku pulang kampung, kami terbiasa tidur satu kamar. Begitu juga dengan saat itu. Karena melihat elisa yang tidur dengan sangat lelap di depan lemari pakaian, Among tidak jadi mengambil baju di lemari dan memakai kaos yang tergantung di balik pintu. Hehehe
Menjelang malam, saat si Inong pulang dari kantor, baru elisa bangun dan pulang ke rumahnya. Malam itu aku, elisa, inong, dan nanguda ngobrol banyak di teras rumahku yang kemudian disusul si among.
Pagi harinya dia tetap datang ke rumah dengan membawa bungkusan mie goring untuk sarapan bersama. She is so kind..

25 Januari 2012
Ruth Hutapea

LOETOENG Part 2 – Asal Mula Loetoeng -


Setiap tahunnya, Bank tempat Inongku bekerja mengadakan perjalanan bersama keluarga besar BRI ke tempat wisata, bisa ke Tuk-Tuk ataupun ke Berastagi. Biasanya aku akan mengajak elisa karena aku tidak mau hanya sendiri di sana saat Inong dan Among sedang berkumpul bersama teman-temannya. Dari perjalanan ke Tuk-Tuk itulah muncul panggilan LOETOENG (catatan: yang membuat tulisan seperti itu adalah dia, bukan saya).

Untuk sampai ke Tuk-Tuk, kita perlu menyebrangi Danau Toba ke Pulau Samosir. Baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Tuk-Tuk. Pelabuhannya terletak di Ajibata. Sepanjang perjalanan dari Parapat ke Ajibata kita bisa menemukan banyak monyet di pinggir jalan yang menunggu dilempari kacang oleh pengunjung yang lewat, juga untuk mencuri-curi kesempatan mencuri mangga yanga banyak di jual di pinggir jalan.

Entah karena si Among sering menonton drama kolosal, saat itu sedang popular di salah satu stasiun televise swasta, atau dia memang tahu sejarah ceritanya, beliau menyebut monyet-monyet itu lutung kasarung. Karena hobi monyet-monyet itu adalah makan dan kalau sudah diberi makanan bisa menjadi sangat tenag, beliau menyamakan kami berdua dengan lutung. Lempar-lemparan ejekan karena tidak mau disebut lutung pun terjadi antara kami berdua. Finally, setelah di sahkan oleh waktu kami berdua sepakat memanggil satu sama lain dengan sebutan lutung dan dia menulisnya dengan LOETOENG. Panggilan ini mulai berlaku saat kami SMP.

Bukan hanya kami berdua saja yang saling memanggil loetoeng. Amongku, orang tuanya, bahkan adiknya si Bosly juga ikut-ikutan menyebut kami berdua Loetoeng. Lama kelamaan nama itu jadi terdengar manis, di samping arti sebenarnya tentu.

Oiya, dia juga membuat satu peraturan. Karena umur kami hanya beda 4 bulan, mulai dari 5 September sampai 27 Januari dia akan memanggil aku kakak dan selebihnya dia akan memanggilku loetoeng. She is funny.. 

25 Januari 2012
Ruth Hutapea

LOETOENG Part 1 – Tentangnya -


Aku memang sudah pernah menulis tentang elisa sebelumnya. tulisan itu aku buat saat kesedihan menyelimutiku. Tulisan kali ini aku buat dalam keadaan normal sambil mengenang dia. Akan ada 6-7 part cerita tentang dia yang akan aku post bertahap. silahkan di simak :) 

27 Januari 1990, lahir seorang anak di keluarga Manurung-Marpaung yang kemudian diberi nama Elisa Hotmaria Manurung. Tidak banyak ingatan waktu dia baru lahir. Yang aku tahu, aku sudah bersama-sama dengannya sejak kecil karena rumah kami yang bersebelahan. Overall, dia memiliki 4 orang adik lagi, satu cewek dan 3 cowok yang bernama Darly Victoria Manurung, Bobby Joseph Manurung, Bosly Ganda Manurung, Fiven Manurung.

Dia tumbuh dalam keluarga besar yang berkecukupan baik materi maupun kasih sayang. Layaknya seorang kakak, dia memiliki sifat cerewet yang selalu berhasil membuat adik-adiknya kesal. Tapi itu untuk melatih adik-adiknya menjadi lebih mandiri dan itu terbukti berhasil. Semua adiknya bisa mengurus keperluan masing-masing dan tidak manja.

Kebiasaan menghabiskan waktu bersama dimulai karena kami punya kebiasaan yang sama, tidak suka terlalu banyak bermain di luar rumah. Jadi pilihannya hanya rumahku atau rumahnya. Beda umur yang tidak jauh, hanya 4 bulan membuat aku dan dia lebih mudah bergaul satu sama lain. Di mana ada aku, selalu ada dia. Juga sebaliknya. Kebersamaan itu sudah menngambil tempat tersendiri di dalam hati yang bahkan aku sendiri sulit menentukan jenis hubungan apa ini namanya.

Saat ini aku baru menyadari kebiasaan-kebiasaan kecilnya yang dulu tidak pernah aku hiraukan. Dia sangat senang memasak, apalagi mencuci. Tipikal ibu rumah tangga yang baik. Bahkan dia punya cita-cita menjadi ibu rumah tangga kelak dan yang pasti harus punya suami yang mapan hehehe. 

Makanan kesukaannya adalah teri kacang disambel dan ikan klotok sambel. Dia bahkan bisa menghabiskannya tanpa dimakan bersama nasi. Selain itu dia juga sangat suka mie goring yang biasanya dijual pagi hari di lorong tiga dekat rumah kami. Dia rela bangun pagi untuk beli mie, dan tidak lupa untuk menyisihkan satu bungkus untukku. Setiap makan, minuman wajibnya adalah teh manis atau susu hangat. Tapi kalau soal sayur, jangan harap dia menyentuhnya. Makanan apapun yang ada sayurnya, pasti dia dengan sabar menyisihkannya.

Dia tidak terlalu suka menonton film ataupun membaca buku tapi dia sangat suka semua tentang romance. Dia selalu berkhayal memiliki cerita cinta yang akan selalu membuatnya tersenyum dan dia punya criteria tersendiri tentang itu.

Hmm,, dia juga suka dengan yang namanya jajanan pasar. Pulang sekolah biasanya dia membantu orang tuanya berjualan di pasar dan kapan saja makanan lewat dari depan kiosnya, dia pasti beli. Dia paling suka sate kerang, entah kenapa. Selain itu dia juga suka jagung bakar dan putu bamboo. Kalau udah soal makanan yang dua itu, dia bisa langsung cepat bergerak untuk membelinya. Hehehe

Kehidupannya hanya berkisar rumahnya, sekolah, pasar, tempat les dan rumahku. Terkadang dia menyempatkan diri untuk berkumpul bersama teman sekolahnya. She is a nice girl..

Seharusnya aku dan dia mulai masuk TK bersama-sama tapi dengan alasan takut, dia terpaksa mundur satu tahun untuk mulai bersekolah. Dari TK sampai SMP dia mengenyam pendidikan di tempat yang sama denganku, Perguruan Kristen Methodist Pematangsiantar. Dia juga menyukai olah raga yangs ama denganku saat SMP, basket. Masa SMA dia habiskan di SMAN 4 Pematangsiantar, sekolah yang berbeda denganku yang saat itu bersekolah di SMA Budi Mulia Pematangsiantar.

Setelah lulus SMA, dia pernah mencoba untuk melanjutkan di Jogja di STPN supaya bisa bersamaku di sini. Tapi memang bukan bagiannya, dia malah melanjutkan di Akbid Sari Mutiara Medan. Sampai akhirnya dia menutup mata, dia sudah berhasil menyelesaikan pendidikannya sampai wisuda.

Dia, gadis ceria yang punya semangat hidup tinggi walaupun ditemani penyakitnya. Loetoeng

25 Januari 2012
Ruth Hutapea

Pria Ideal Menurut Wanita

Apa yang terbersit pertama kali saat mendengar kata “Pria Ideal”???

PS: Ideal tidak sama dengan sempurna loh :-P

Saya sudah melakukan beberapa survey tentang pertanyaan itu dikalangan mahasiswi dari beberapa angkatan, mulai dari angkatan terbaru 2011 sampai angkatan (ehem!) 2007. Respon yang diterima bermacam-macam. Ada yang berpikir panjang dengan tampang serius, ada yang berpikir dengan tampang mengkhayal, ada yang dengan girang, dan ada yang tampang bingung karena gak ngerti maksudnya (yang ini satu kosan saya), #ups hahahahaha…

Dan jawaban mereka sukses membuktikan prediksii saya tentang sosok “Pria Ideal”. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara soal fisik. Menarik bukan?! Ternyata para wanita menilai seorang pria yang dikatakan ideal buakan dari penampilan luar tapi dari inner-nya.

Nah, berikut ini kesimpulan dari jawaban mereka. Cekidot!

Seiman
Ini merupakan prinsip dasar dalam hidup seseorang. Jika sudah beda prinsip, apa yang harus dipertahankan?

Bertanggung Jawab
Pria yang bertanggung jawab akan tahu menempatkan diri dan bisa diandalkan dalam segala hal.
Pekerja Keras
Pria yang pekerja keras tidak akan membiarkan dirinya dan keluarganya kesusahan. Karena itu, dia akan bekerja dengan kemampuan yang maksimal.

Penyayang
Hey! Siapa yang tidak ingin disayang??

Tulus
Yaaa,,orang yang tulus membuat kita nyaman di sebelahnya :)

Mapan
Actually, menurut saya pria kombinasi bertanggung jawab dan pekerja keras adalahh pria mapan. Ya gak sih woy???

Satu suku
Umumnya ini tidak menjadi masalah besar. Secara khusus?! Ini merupakan jawaban dengan pertimbangan keinginan orang tua.

Jadi para pria,,, sudahkah Anda termasuk dalam kategori pria ideal menurut para wanita? Bukan tentang fisik tapi lebih ke pribadi kalian.

Pamiiiit yeee…..

Pembicaraan Singkat Tentang Wanita dan Pria

Hari Minggu siang, pulang gereja di GKI Gejayan bersama Robin Aritonang, kami mampir ke rumah makan prasmanan. Cukup ramai karena tepat jam makan siang dan banyak jemaat yang baru selesai ibadah makan di sana. Ternyata di rumah makan itu ada beberapa teman UKM Robin yang juga ingin santap siang di sana, salah satunya kakak KTB-nya yang bernama bang Vallti Situmorang (gak tau deh penulisan namanya benar apa gak, hehehe).
Setelah berkenalan ala kadarnya, pembicaraan mulai ngalor-ngidul ke arah percintaan (Jeng..Jeng..!). Yah berhubung sedang ada sesi curhat, saya hanya bisa menyimak sambil mengamati pemikiran mereka. Sampai akhirnya ada satu kesimpulan:
“ Dalam hal cinta pria lebih sering menggunakan logika sedangkan wanita lebih sering menggunakan perasaan.”

Untuk para wanita, jangan terlalu sering membuat bingung para pria yang sedang melakukan pendekatan (PDKT) denganmu. Sifat wanita yang cenderung jual mahal, malu-malu kucing, jinak-jinak merpati, dan lainnya (Heran! Kenapa diidentikkan dengan hewan ya? #abaikan) membuat para pria sering salah mengartikan perasaan si wanita.
Dalam agama memang tidak diharamkan seorang wanita mengungkapkan perasaannya duluan. Hal itu menjadi rumit dan sulit diterima karena pengaruh culture kita sebagai orang timur. Sah-sah saja sebenarnya jika seorang wanita ‘menembak’ seorang pria, ini hanya soal etika saja. (Dikutip dari perkataan bang Vallti).
Saat PDKT wanita sudah merasa nyaman dan benih-benih cinta sudah muncul (#eeaaa). Akan tetapi, rasa gengsi membuat mereka terkadang maju mundur mendapat perhatian dari seorang pria. Hal ini sering disalahartikan pria bahwa wanita tersebut tidak memiliki perasaan yang sama, cinta bertepuk sebelah tangan. Padahal si wanita hanya ingin meyakinkan perasaannya dan menguji seberapa besar cinta pria itu.
Seorang pria bisa dengan mudah mundur dari perjuangan cintanya saat seorang wanita terlihat mulai tidak memberi respon positif. Saat logikanya mengatakan tanda-tanda wanita tidak memberi lampu hijau, dia bisa saja langsung mundur. Tapi tentu saja ini tergantung tipe pria tersebut, seorang pejuang cinta sejati atau yang gampang menyerah.
Karena itu ada baiknya kita lebih mengenal karakter calon pasangan kita saat pendekatan bukan hanya sekadar kebersamaan dan kenyamanan saja. Asal tidak salah langkah saja.

Ruth Hutapea

Rabu, 28 Desember 2011

Untukmu, Loetoeng

Kehilanganmu berhasil membuatku bangkit dari kemalasan menyelesaikan Tugas Akhirku. Dari awal kau yang selalu mendesakku untuk menyelesaikannya supaya kau bisa menghadiri wisudaku. Tapi aku tidak peka akan semua ini.
Kehilanganmu membuatku semakin memburu target menyelesaikan study-ku. Tapi semua itu aku tahu sudah terlambat. Kau tetap tidak bisa menemaniku di hari special itu. Aku hanya berharap kau bisa tersenyum dari atas sana untuk keberhasilanku. Dan kau tahu, aku melakukan semuanya untuk membuatmu bangga padaku.
Ini yang kau minta dari aku. kau ingin aku segera menyelesaikannya. sekarang aku telah menyelesaikannya tapi aku sudah terlambat. kau tidak bisa menikmatinya bersamaku.
Aku mungkin bukan kakak yang baik selama ini karena tidak bisa selalu ada saat kau berjuang. Tapi saat ini aku ingin kau bangga bisa memiliki sosok kakak seperti aku yang bisa berjuang untuk membanggakanmu, adikku.
Besar keinginan untuk bisa berbagi bahagia ini bersamamu. Tapi kita sudah terpisah. Aku ingin kau tersenyum melihatku dari atas sana dan berkata “Ini dia kakakku”. Aku tetap menunggu kehadiranmu untuk melihat senyummu itu, toeng. Sampai kapanpun. Tunggu aku di sana. Kelak aku akan memelukmu erat.
Peluk hangat Elisa untukku, Tuhan. Dia adikku yang terbaik.

Loetoeng (27 Januari 1990 - 6 November 2011)

Tulisan ini ada karena aku tidak bisa melepasmu, adikku. Aku tidak bisa melihatmu untuk terakhir kalinya. Bahkan aku tidak ada di sampingmu saat kau benar-benar tersiksa karena sakitmu. Maaf loetoeng, aku bukan kakak yang baik buatmu.

Banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, adikku. Banyak perasaan untukmu yang belum tersampaikan. Kau tahu, kita sudah janji mau merayakan natal tahun ini bersama-sama kan? Sekarang aku justru tidak ingin lagi merayakan natal di kota itu. Mungkin menurutmu berlebihan tapi memang seperti itu. Merayakn natal di sana akan mengingatkan perasaan menyesal itu lagi karena aku tidak bisa melihatmu untuk terakhir kalinya.
ELISA HOTMARIA MANURUNG. Lahir 27 Januari 1990. Hanya 4 bulan lebih muda dariku. Tapi dia bisa menempatkan diri sebagai adik sekaligus sahabat yang baik. Dia bisa melengkapi kesepianku sebagai anak tunggal.
Sejak kecil aku terbiasa bermain bersamanya karena rumah kami bersebelahan. Semua tingkah nakal pasti kami lakukan bersama-sama. Mulai dari lompat pagar rumah orang, melempari atap rumah orang, menggertak anak orang, sampai iseng ngerjain orang via telepon rumah. Kami memang tidak terlalu bergabung dengan anak-anak di daerah perumahan kami, karena kami lebih sering bermain berdua, terkadang bertiga dengan adiknya, Darly.
Berhubung umur kami hanya beda 4 bulan, dia membuat aturan. Mulai September sampai Januari, dia bakal memanggilku kakak. Januari sampai September, dia cukup memanggilku dengan Ruth. Tapi gak jarang juga kalau dia lagi ada maunya, menyebutku kakak walaupun bukan sedang antara September dan Januari.
Dia selalu ada saat aku terjatuh dengan masalah di keluargaku. Dia selalu bersedia menemaniku dan berusaha menjadi sosok yang dewasa menguatkan aku. Dia selalu menyisihkan makanannya untuk dibagikan padaku. Menyediakan sarapan saat aku tidur di rumahnya. Mentraktir aku ini-itu supaya aku senang.
Kepindahanku ke Jogja untuk kuliah membuat komunikasi antara kami berdua semakin berkurang. Tepat di saat aku akan berangkat, dia memilih untuk tidak melepasku secara langsung. Dia hanya menitipkan sebuah boneka beruang kecil dan secarik surat yang menceritakan kesedihannya harus pisah dengan aku. Saat itu aku membacanya sambil tersenyum tapi sekarang, mengingatnya saja sudah berhasil membuatku menangis.
Asal muasal nama Loetoeng, yang merupakan panggilan kami satu sama lain, adalah saat liburan keluarga besar BRI ke Tuk-tuk, Samosir. Di sepanjang jalan di Parapat ada banyak monyet. Spontan si Among bilang “kalian berdua mirip kayak lutung itu. Kalau udah makan, pasti bisa tenang”. Dari situ mulailah panggilan loetoeng mulai muncul. Bukan hanya kami berdua yang mengakui panggilan itu. Kedua orang tua kami bahkan adik2nya juga ikut-ikutan memanggil kami loetoeng. Memori yang manis darinya.
Di kepulanganku tahun 2009, aku mengunjunginya ke asrama Sari Mutiara Medan dan dia meminta sebuah baju dariku. Itulah hadiah terakhirku untuknya.
Selama terpisah jarak, ada satu hal yang selalu ditanyakan setiap kali dia telepon atau sms, bahkan di saat dia sakit tetap bertanya soal cowok. Hal terakhir yang dia katakan “Kalau sampai natal ini kau gak punya pacar, kau kujodohkan sama si Hendra”. Dan sekarang itu hanya tinggal kata-kata karena ternyata 2 bulan sebelum natal dia sudah meninggalkanku.
Aku selalu terlambat menerima kabar tentangnya. Saat dia koma karena lupus selama 20 hari di Medan desember tahun lalu, aku pun tahu beberapa bulan kemudian. Selalu saja aku tidak ada di saat dia butuh support. Perkembangannya maju pesat dan dia sudah bisa kembali kuliah walaupun harus extra keras mengejar ketinggalannya. April 2011 aku menyempatkan pulang karena Inong sakit. Setelah setahun lebih, aku bertemu lagi dengan elisa. Pagi itu aku memeluknya erat. Benar-benar merindukannya.
Kami merayakan paskah bersama di HKBP bersama keluarganya. Setelah itu aku ziarah ke motung bersama keluarganya dan menghabiskan waktu di Ajibata, Danau Toba. Hari paskah aku habiskan bersama dengan elisa, bukan dengan Among dan Inong. Seolah mengerti, mereka langsung saja mengijinkanku pergi bersama elisa. Esok malamnya, kami menerjang hujan naik motor demi jagung bakar favoritenya di depan RSU. Tidak terlihat kalau ditubuhnya sedang ada penyakit yang kapan saja bisa kambuh. Bukan Lupus yang merenggutnya tapi penyakit lain sebagai efek pengobatannya.
Tidak pernah sekalipun dia menunjukkan kesedihannya padaku. Dia bahkan masih sempat wisuda menyelesaikan study-nya di Akbid untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Di saat sakitnya dia pun sempat bercanda. Malam itu si Inong menelpon tepat di saat berkunjung ke rumah elisa. “Toeng, perutku sekarang besar loh. Udah kayak orang hamil. Aku udah kayak Maria, hamil karena Yesus”
Saat itu aku hanya bisa membalas dengan candaan walaupun hatiku sedih mendengarnya.
Seminggu kemudia dia berangkat ke Penang. Entah bagaimana caranya, karena kata Inong untuk duduk aja dia sudah merasa sesak. Lebih dari seminggu dia di sana. Aku hanya bisa bertanya ke darly, adiknya, tentang perkembangan elisa. Dokter memvonisnya gagal ginjal dan sudah menyerah. Air mataku menetes kembali mendengar kabar itu.  Dengan robin, aku menceritakan ketidakrelaanku jika sesuatu terjadi padanya. Aku tidak siap untuk semua itu.
Minggu, 6 November 2011.
Minggu pagi ini aku ibadah gereja bersama Robin. Setelah ibadah, kami menyempatkan sarapan di Lontong Sumatera. Langit pagi itu mendung dan akhirnya hujan. Suasanan hatiku benar-benar tidak enak. Tepat di saat makanan dihidangkan, aku mendapatkan SMS dari astrid.
“Kak, kakak udah tau kak elisa meninggal”
Perasaanku campur aduk. Aku menangis tapi tidak ada air mata yang jatuh. Tidak percaya. Itu yang aku rasakan. Kecewa, itu yang aku rasakan. Aku marah untuk semuanya. Bukan sekarang seharusnya. Kami bahkan sudah berjanji untuk merayakan natal bersama. Hujan semakin deras. Mungkin itu mewakili hatiku yang menangis.
10.45 WIB dia pergi kembali ke Allah. Dan memang aku tidak bisa merelakannya. Aku ingin segera pulang ke sana tapi aku tidak bisa. Saat itu aku sedang Ujian Mid dan kondisi benar-benar tidak memungkinkan. Aku merasa sangat bersalah.
Aku terduduk lemas di kos dengan tangis yang tidak berhenti. Aku menghadapinya sendiri di sini. Elisa bahkan tidak mampir untuk pamit denganku. Kenapa dia tidak mengucapkan apapun sebelum pergi.
Aku bukan termasuk orang yang mudah menangis. Tapi jika tentang dia, air mata ini bisa turun dengan mudahnya. Mengingatnya membuatku merasa bersalah, merasa kosong dan kehilangan, merasa bodoh, dan merasa tidak rela.
Seminggu aku seperti orang linglung. Berharap dia datang menemuiku tapi sampai sekarang dia tidak muncul. Aku masih menunggunya untuk datang. Seorang guru bimbingan kami di SSC, pak Monang, bermimpi ada yang mengantarkan sebuah peti mati ke sekolah. Aku mengetahui cerita ini dari bang Mars. Kenapa aku tidak punya firasat apa-apa?
Dia dan aku mungkin tidak punya hubungan darah tapi hubungan ini jauh lebih dalam dari hubungan darah. Saat aku mengetik semua ini, aku merasakan kerinduan tentangnya. Lagu Dear God mengiringi setiap ketikan jariku untuknya.

Selamat jalan, adikku, sahabatku, temanku, loetoengku..

Surat yang Tak Tersampaikan

Dear Pahlawan Wanitaku yang Paling Cantik,                 Aku bersenandung bersama isak pagi ini                 Terulang memori...