Rabu, 01 Februari 2012

Ada Apa Dengan TTM?


Mendengar kata Teman Tapi Mesra (TTM) atau Hubungan Tanpa Status (HTS) mungkin merasa itu istilah lawas, mengikuti judul lagu Ratu dulu. Tapi walaupun lawas, TTM masih marak terjadi di kalangan muda yang masih ingin berpetualang.
Pertanyaannya : Kenapa ada banyak orang yang dengan sangat nyaman melakukan hubungan TTM??????
Pacaran Tanpa Ikatan
Itulah definisi lain dari TTM. Karena tidak ada ikatan, tidak ada tanggung jawab yang harus diemban (ealah, susahnya nemuin kata yang tepat). Selain itu, dalam TTM, kita masih bisa mencari pasangan yang lebih tepat (intinya sih masih bisa lirik kiri-kanan).
Perhatian
Tanpa pacaran, dengan TTM masih bisa mendapat perhatian dan bermanja-manja dengan si pasangan TTM.
Punya someone untuk diperhatikan
Sudah dapat perhatian, secara otomatis kita akan memberi respon dengan memberikan perhatian yang sama ke doi.
Sedia setiap saat
Saat bete atau sedih atau galau dan senang, tetap ada orang yang bisa kita ajak berbagi satu sama lain. Masih bisa diajak jalan bareng pula.
Panggilan sayang
Ndut, Mbem, Hun, bahkan sayang menjadi panggilan sayang yang umum. Mau pacaran ataupun TTM-an.
Cuma Sahabat
Sahabat dan TTM jelas dua hal yang berbeda. Letaknya? Di perasaan dong. TTM memang berada di garis abu-abu antara sahabat dan pacar. Tapi sahabat sering secara tidak sadar berubah menjadi TTM looh.
Untungnya pacaran apa dong kalau gitu???????
Ya! Pacaran punya kejelasan status dan gak digantung. Punya hak untuk memiliki juga. So? Mau pilih yang mana??
Ini Cuma gambaran loh, bukan menghasut..hehehehe

Happy birthday to you


27 Januari 2012
Hari itu, tepat di hari ulang tahunmu yang ke-22
Tidak ada air mata yang menetes dari mataku
Aku merasa kau masih ada di sini
Aku hanya bingung kemana aku harus mengirim pesan singkat ini

Siang itu di bawah terik matahari
Aku memandang pusaramu dalam diam
Hanya ditemani isak tangis ibumu
Yang begitu sendu dan menyimpan sejuta kerinduan

Memori kebersamaan terakhir kita berputar seperti kilasan film
Kekonyolanmu dan celotehan asalmu tentang penyakitmu
Kelincahanmu bergerak ke sana ke mari
Bahagia seolah derita itu tidak pernah ada

”Happy birthday to you.. Happy birthday to you.. Happy birthday..Happy birthday.. Happy birthday to you..”

Lagu itu begitu jelas terdengar dari sekolah di dekat tempatmu berdiam
Nyanyian itu seolah dipersembahkan untukmu
Begitu ceria dan menghibur kesedihan
Aku hanya bisa berandai…
Seandainya aku bisa merayakan ulang tahun ke-22mu
Bersama-sama denganmu di  rumah ini tanpa kekosongan dan kesedihan

Selamat ulang tahun untukmu adekku, sahabatku, loetoengku, Elisa…

Rabu, 25 Januari 2012

LOETOENG Part 4 – Kisah Cintanya -


Seperti yang sudah aku katakana tadi, elisa sangat menyukai romance. Kehidupan percintaannya juga cukup unik. Dia sering sekali galau karena dia memiliki perasaan kepada sahabatnya saat SMP. Selama beberapa tahun dia menyimpan perasaannya itu. Saat-saat dia galau adalah saat-saat yang palin menghibur buatku karena dia kana menunjukkan ekspresi malu, senang, dan sedih bersama-sama.

Saat SMA, dia mempunyai kisah cinta bak sinetron. Dia menyukai cowok di mana mama si cowok tidak menyukai elisa. Mereka pun sering jalan diam-diam. Sampai suatu saat, pulang meminjam tas dari rumahku bersama cowok yang bernama Andi, mereka mengalami kecelakaan di PMM. Yang aku ingat, ANdi sudah berusaha melindungi elisa supaya tidak terluka parah. Karena kecelakaan itu, hubungan mereka jadi ketahuan dan tidak memiliki kelanjutan yang jelas.

Setelah itu, dalam hidupnya hadir seorang cowok bernama Patar yang selalu siap sedia untuknya. Sampai sekarang aku belum tahu jelas bagaimana perasaan elisa yang sebenarnya kepada patar. Aku dan darly dengann jelas sudah mendukungnya untuk jadian dengan patar. Patar termausk cowok yang baik di mataku dan darly. Tapi seolah ada satu hal yang tidak tepat di hati elisa makanya dia tidak bisa menerima patar. Sampai akhir nafasnya, patar adalah orang yang cukup berjasa membantunya menyelesaikan pendidikan Akbidnya.

Di masa-masa sakitnya, dia memiliki seorang pacar yang aku lupa namanya -__-“ (again!). cowok ini bekerja sebagai seorang PNS di salah satu daerah di Sumatera Utara (lupa juga namanya). Selama hamper setahun mereka menjalani Long Distance Relationship (LDR). Orang tua elisa juga sudah mengenal cowok itu, begitu juga sebaliknya. Sayang aku tidak pernah punya kesempatan untuk dikenalkan.

Cowok terakhirnya termasuk cowok yang setia. Bukan hanya sekali elisa memintanya untuk mencari cewek lain yang lebih sehat dari dia tapi cowok itu tetap berkeras untu menemani dia. Aku tidak tahu bagaimana detailnya mengenai akhir cerita mereka. Mungkin nanti aku bisa bertanya kepada adiknya atau mamanya.

25 Januari 2012
Ruth Hutapea

LOETONG Part 3 – Kenangan Bersamanya -


Ada banyak kenangan yang sudah aku lewati bersama dia yang tidak bisa aku ingat secara rinci, my bad! -__-“ 

Sejak kecil kami selalu mengambil bagian dalam acara natal kampung (acara natal di Jl. Pisang, komplek  perumahan kami, itu juga kalau bisa dikatakan kompleks). Biasanya kami mengambil bagian di acara tarian. Hampir setiap tahun baju natal yang kami gunakan selalu sama, begitu juga dengan adiknya, Darly. Gaun merah, sepatu berlampu, dan kaos kaki berenda yang memangg sedang ternd saat itu juga sempat menjadi seragam kami bertiga. 

Setiap liburan sekolah, kami selalu bersama-sama bermain di rumahnya atau rumahku. Terkadang kami bergabung dengan anak lainnya untuk bermailn ‘alip jongkok’, ‘alip cendong’ atau petak umpet, pecah piring, dan lompat tali. Setelah bermain kami akan mandi bersama dan makan malam bersama. Itu kenangan indah saat aku dan dia masih kecil. Hal itu berlanjut sampai aku pindah rumah, kelas tiga SD ke Cantik Manis Marihat.

Walaupun aku pindah, kami tetap bermain bersama. Karena satu-dua hal, aku terpaksa tidak bisa terang-terangan bermain ke rumahnya. Jadi kebersamaan kami lebih sering terlihat di sekolah. Seiring berjalannya waktu, kami sudah semakin bebas untuk bermain ke mana saja. Hari ini, aku bisa menghabiskan liburku menemani dia berjualan di pasar bersama adiknya juga. Bahkan kami pernah dua keluarga berlibur bersama. Jenis hubungan apa yang terjadi antar kedua keluarga ini? Indah bukan?

Kalau sedang ingin melakukan perjalanan, jarang sekali kami membeli makanan. Selalu membawa makanan sendiri. Keluarganya dan keluargaku masing-masing membawa makanan yang dimasak sendiri yang pada akhirnya selalu dibagi untuk dimakan bersama-sama. Untuk makanan kecil, Nanguda (mamanya elisa) selalu membuat donat yang menjadi andalannya,  dan elisa tak ketinggalan ikut membuat godok-godok (makanann yang terbuat dari adonan tepung dan pisang) yang sealu jadi andalannya. Bisa ditebak sebenarnya masakan apa yang akan mereka bawa. Menu teri kacang sambal akan selalu ada.hehehe

Memang sudah dasarnya iseng dan sedikit preman (maklum, kebanyakan menghabiskan waktu di pasar), aku dan elisa tidak pernah segan untuk mengerjai anak-anak di belakang rumah. Entah karena keterlaluan, kami sempat ketakutan kalau-kalau ibu dari anak itu datang ke rumah kami membawa golok karena sudah membuat anaknya menangis. Jangan ditanya siapa nama anak itu, ingatanku jangka pendek kalau soal nama. #ups

Zaman SMP-SMA saat hari sabtu, aku sering menginap di rumahnya sambil mengunjungi opungku yang rumahnya tepat di sebelah rumahnya. Walaupun dengan bertambahnya aku menginap di sana kamarnya akan semakin sempit, aku selalu mendapatkan tempat yang nyaman untuk tidur bersam Elisa dan Darly.

Pagi harinya, dia akan bangun pagi-pagi untuk membeli sarapan untukku dan adik-adiknya. Bubur ataupun mie goring, ya lagi-lagi makanan kesukaannya yang otomatis jadi makanan kesukaan kami juga karena terbiasa.

Berbicara soal keisengan, teman baikku di SMP juga pernah menjadi korban keusilan kami via telepon yang akhirnya terbongkar. Memang dasar berhati baik, kami tidak ahli soal ini hahaha.

Dia akan selalu ada untukku, apalagi di saat-saat aku menghadapi fase berat dalam keluargaku. Saat itu dia akan bertindak sebagai sahabat yang akan selalu ada saat aku butuh.

Perpisahan pun terjadi saat aku harus melanjutkan kuliah di Jogja. Hari-hari sebelum aku berangkat, dia bersikap biasa saja. Sampai saat itu tiba, aku harus berangkat pagi hari ke Bandara Polonia. Dia tidak ikut melepasku. Dia hanya menitipkan sebuah bineka kecil dan sebuah surat. Aku lupa isi detail suratnya. Yang aku ingat, dia tidak mau ikut mengantarku karena dia bilang dia tidak kuat. Jadi biar boneka itu saja yang menemani aku. She is so sweet, hah? Hehehe di sini dia bertindak sebagai seorang adik yang tidak bisa ditinggal kakaknya.

Setahunn setelah kuliah, aku kembali untuk berlibur di kampung halaman. Saat itu dia sedang mengikuti test STPN di Pekan Baru. Dua hari setelah aku tiba di Siantar, dia pun pulang. Begitu sampai rumah, dia langsung ke rumahku tanpa menyimpan barang ke rumahnya. Setelah makan siang, kami mengobrol banyak sambil menonton TV di kamar dan dia pun tertidur dengan polosnya karena kecapean menempung perjalanan darat selama 12 jam.

FYI, kamarku adalah kamar orang tuaku. Setiap aku pulang kampung, kami terbiasa tidur satu kamar. Begitu juga dengan saat itu. Karena melihat elisa yang tidur dengan sangat lelap di depan lemari pakaian, Among tidak jadi mengambil baju di lemari dan memakai kaos yang tergantung di balik pintu. Hehehe
Menjelang malam, saat si Inong pulang dari kantor, baru elisa bangun dan pulang ke rumahnya. Malam itu aku, elisa, inong, dan nanguda ngobrol banyak di teras rumahku yang kemudian disusul si among.
Pagi harinya dia tetap datang ke rumah dengan membawa bungkusan mie goring untuk sarapan bersama. She is so kind..

25 Januari 2012
Ruth Hutapea

LOETOENG Part 2 – Asal Mula Loetoeng -


Setiap tahunnya, Bank tempat Inongku bekerja mengadakan perjalanan bersama keluarga besar BRI ke tempat wisata, bisa ke Tuk-Tuk ataupun ke Berastagi. Biasanya aku akan mengajak elisa karena aku tidak mau hanya sendiri di sana saat Inong dan Among sedang berkumpul bersama teman-temannya. Dari perjalanan ke Tuk-Tuk itulah muncul panggilan LOETOENG (catatan: yang membuat tulisan seperti itu adalah dia, bukan saya).

Untuk sampai ke Tuk-Tuk, kita perlu menyebrangi Danau Toba ke Pulau Samosir. Baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Tuk-Tuk. Pelabuhannya terletak di Ajibata. Sepanjang perjalanan dari Parapat ke Ajibata kita bisa menemukan banyak monyet di pinggir jalan yang menunggu dilempari kacang oleh pengunjung yang lewat, juga untuk mencuri-curi kesempatan mencuri mangga yanga banyak di jual di pinggir jalan.

Entah karena si Among sering menonton drama kolosal, saat itu sedang popular di salah satu stasiun televise swasta, atau dia memang tahu sejarah ceritanya, beliau menyebut monyet-monyet itu lutung kasarung. Karena hobi monyet-monyet itu adalah makan dan kalau sudah diberi makanan bisa menjadi sangat tenag, beliau menyamakan kami berdua dengan lutung. Lempar-lemparan ejekan karena tidak mau disebut lutung pun terjadi antara kami berdua. Finally, setelah di sahkan oleh waktu kami berdua sepakat memanggil satu sama lain dengan sebutan lutung dan dia menulisnya dengan LOETOENG. Panggilan ini mulai berlaku saat kami SMP.

Bukan hanya kami berdua saja yang saling memanggil loetoeng. Amongku, orang tuanya, bahkan adiknya si Bosly juga ikut-ikutan menyebut kami berdua Loetoeng. Lama kelamaan nama itu jadi terdengar manis, di samping arti sebenarnya tentu.

Oiya, dia juga membuat satu peraturan. Karena umur kami hanya beda 4 bulan, mulai dari 5 September sampai 27 Januari dia akan memanggil aku kakak dan selebihnya dia akan memanggilku loetoeng. She is funny.. 

25 Januari 2012
Ruth Hutapea

Surat yang Tak Tersampaikan

Dear Pahlawan Wanitaku yang Paling Cantik,                 Aku bersenandung bersama isak pagi ini                 Terulang memori...