Minggu, 05 Mei 2013

Bisakah, kau?

Aku ingin membuat permintaan,
sebuah permintaan terakhirku padamu.

Saat kita bertemu esok, bisakah kau berpura-pura?
Pura-pura tidak melihatku.
Pura-pura tidak mengenalku.

Saat kita bertemu esok, bisakah kau melakukannya?
Jangan melihatku!
Jangan juga menyapaku!

Saat kita bertemu esok, bisakah kau tidak mengacuhkanku?
Jangan menatap!
Jangan juga tersenyum!

Bisakah kau menghilang?
Bisakah kau melupakan hari-hari bersamaku?

Meskipun aku yakin kita tidak akan bertemu,
tapi bisakah kau mengabaikanku saja?

Ruth Hutapea

Jumat, 15 Februari 2013

SAJAK SEDERHANA, “Aku Sedang Jatuh Cinta”



Aku ingin mengatakan 'Aku sedang jatuh cinta'
Layaknya awam, akan aku ungkap lewat sajak
Layaknya aku, yang mencintai kesederhanaan
Sajak ini kusajikan dengan style-ku

Bukan lewat sajak berat yang muncul
Seperti rotasi, gemuruh, hypothermia
Ataupun sajak berlebihan seperti awam,
Tenggelam dalammu, lubuk hati paling dalam, tatapan matamu
Sesuatu yang bukan seperti itu

Aku ingin mengatakan ‘Aku sedang jatuh cinta’
Hanya satu kalimat itu saja,
sudah menggambarkan seluruh bait dalam sajak ini
aku menyampaikannya lewat sajak sederhana

“ Aku sedang jatuh cinta, menikmati setiap perasaan yang ada. “
Tidak dengan bunga ataupun cokelat.
Hanya sebuah kalimat tanpa bumbu
Terasa pas dan tepat, “Aku sedang jatuh cinta”

Ruth Hutapea

PS : Puisi ini ada karena sajak dari sebuah film India, Jab Tak Hai Jaan. Memang gak ada hubungannya sih, tapi puisi ini ada setelah membaca sajak dari film tersebut ^^

Kamis, 14 Februari 2013

Love Is (not) Complicated



" Ini cerpen terbaru.. saya no comment aja deh.. ^^ "
LOVE IS (NOT) COMPLICATED
By : Ruth Hutapea
“Hahaha… That’s funny!”
“Zzzzzz….!!!”
“Why???”
“Itu tertawa atau menertawakan??”
“Yayaya… Logikanya sebagai pria lo harus inisiatif duluan buat ngasih tempat duduk. Apalagi buat bumil kayak gitu.”
“Si bumil aja gak sewot. Kenapa malah ibu-ibu sebelah gue yang ngomel. Lagian gue juga capek kali.”
“Tapi lo kan pria. Dewasa!”
“Pria dewasa juga manusia. Bisa capek”
“Wait! Lo pria kan ya?”
“Maksud lo?”
“Hahaha…”
“Kalau bercanda itu tau waktu dong!”
“Lah??”
….
“Hello??? Lo marah??”
….
“Gue bercanda kali..”
….

Bayang Fatal



" Cerpen yang ini ditulis waktu kelas 2 SMA. nyolong waktu pelajaran kewarganegaraan karena tiba-tiba disuruh ikut lomba. Kalau soal bahasa tulisan sih, ..... *silent* Enjoy it lah yaaaa..."
Bayang Fatal
By : Ruth Hutapea
Hujan kecil membasahi taman asri halaman sebuah rumah sakit pagi itu. Dedaunan tampak ikut bergoyang seirama dengan jatuhnya rintik hujan. Seorang gadis berseragam putih abu-abu berjalan di koridor menatap kosong ke depan. Tidak tahu apa yang ada dipikirannya. Ia berhenti di depan sebuah pintu berwarna putih sejenak seperti sedang memutuskan untuk tetap melanjutkan niatnya atau tidak, lalu mengalihkan pandangannya ke papan bertuliskan nama seorang psikolog. Untuk membulatkan niatnya, ia menutup mata dan menghela nafas panjang.
“Permisi, Tante!” ucapnya setelah mengetuk pintu.
“Masuk! Rhea? Tumben kamu ke sini?” jawab wanita separuh baya itu dengan wajah terkejut yang kemudian berganti dengan senyuman tulus.
Rhea hanya menjawabnya dengan senyuman.
“Ada apa kamu ke sini, Rhe?” Rhea hanya diam.
“Kamu gak sekolah?” Rhea menjawab dengan gelengan. Wanita itu mempersilahkan Rhea untuk duduk.
“Rhea, kamu ada masalah? Apa ada hubungannya dengan orang tua kamu?” tanya wanita itu lagi.
Diam menyelimuti ruangan. Pertanyaan itu membuat wajah Rhea semakin sendu.
***

Orange Juice Love



" Cerpen ini ada sekitar 4 tahun yang lalu, zaman-zaman masih labil dalam pemikiran dan bahasa. Bahkan saya masih suka senyum-senyum sendiri membacanya. Cerpen ini sengaja tidak saya edit untuk mengingat seperti apa jenis tulisan saya dulu. Selamat membaca sambil tersenyum :) "
Orange Juice Love
By : Ruth Hutapea
Minggu sore ini, langit hitam. Perlahan air mulai jatuh membasahi halaman yang penuh rumput, semakin deras. Tidak tahu kapan akan berhenti, aku mencoba mencari kesibukan di kamar ditemani laptop kesayanganku. Brown namanya. Aku mulai membuka aplikasinya satu persatu. Tidak ada yang menarik. Aku menjatuhkan tubuhku ke tempat tidur dengan membiarkan brown tetap menyala di atas meja.
Mataku mulai terpejam saat ponsel kecilku yang kuberi nama pink sesuai dengan warnanya, walaupun aku benci pink tapi ini hadiah dari sepupuku. Doni! Nama itu muncul di layar ponselku.
“Tumben ni anak nelfon.” Pikirku.
Dengan enggan tapi penasaran aku menjawab telpon dari Doni.
“Kenapa, Don? Tumben lo nelfon gue.”
“Gue butuh bantuan lo, Sha.”
“Rey!”
“Iya, Reysha.”
“Bantuan apa?”
“Besok gue jelasin ke elo. Thanks ya, Rey.”
Telpon diputus. Aku belum menjawab ‘ya’ tetapi doni sudah mengiyakan jawaban Rey.
Suara hujan kembali membawaku ke alam mimpi.
***

Kamis, 15 November 2012

Satu Tahun Setelah Kau Pergi

6 November 2012

Sudah disepakati hari itu aku, Nifa, Bimo, Dian, dan Nanda akan menghabiskan hari di Solo. Kereta Sri Wedari 08.36 jadi pilihan kendaraan ke Solo. Dimulai dengan Waterpark Pandawa. Entah kenapa aku merasa hiperaktif selama di Pandawa. Semua wahana aku mainkan, padahal malam sebelumnya aku tidak tidur sama sekali. Pikiranku penuh dengan Elisa dan didominasi rasa bersalah. Susah rasanya untuk menangis, atau mungkin aku merasa tidak tepat untuk menangis. aku berharap air bisa menenangkan pikiranku tapi hanya sesaat.

Dari Pandawa, kami memutuskan untuk berkeliling kota Solo menggunakan mobil adiknya Bimo. Setelah berburu Serabi, kami mamlir ke alun-alun untuk bersantai. Di alun-alun itulah aku melepas semuanya. Entah bagaimana memulainya, aku sudah menangis dalam keadaan tidak sadar dipelukan Nifa. Aku tidak tahu apa yang aku ucapkan, aku hanya tahu aku menangis karena terbangun dengan mata basah dan merasa lelah. Dan disitulah aku mendapatkan 'tato sulam' di tangan kiriku.

Elisa Hotmaria Manurung


Siapa itu Elisa? silahkan klik link di bawah ini :


Sudah satu tahun tepat kau pergi, toeng. Where are you? do you miss me? Tidak ada yang bisa aku lakukan selain berdoa. tepat saat 6 November 2012 datang, aku mulai bercerita pada Tuhan. aku tidak tahu apa yang aku bicarakan dengan-Nya. Aku hanya ingin berbicara tapi tidak tahu dengan siapa dan hanya Dia yang selalu ada. Satu momen aku seolah berbicara denganmu tapi tidak ada jawaban. Aku menunggu kau memarahiku atau tersenyum atau memelukku tapi ternyata tidak. aku hanya merasakan dingin.

Aku sempat berpikir untuk ikut denganmu, tapi kau pasti akan lebih marah lagi kalau aku melakukannya, mengingat Inong masih sangat membutuhkanku. Perasaan bersalah itu semakin memuncak. Salahku memang malam itu justru mendengarkan lagu Your Guardian Angel, Dear God, dan Tak Ada Yang Abadi. Rasanya ketiga lagu itu mewakili apa yang aku rasakan untukmu, Toeng.

Aku ingin berbicara dengan Nanguda, mamamu. Tapi aku tidak punya keberanian untuk mendengarnya menangis karena aku justru sedang menangis di sini. Apa kau melihatnya, Toeng? Apa yang kau rasakan sekarang? Semua tugasmu di sini sudah selesai. Apa kau bahagia di sana? Seperti apa rasanya di sana? Bisakah kau bercerita padaku?

Tepat setahun kau pergi, aku tidak bisa menjengukmu di sana. Tapi aku janji untuk menjengukmu sebelum natal nanti bersama adikmu, Darly. 

Kau tahu betul apa yang aku rasakan, Toeng. Perasaan bersalah. Aku minta maaf, benar-benar minta maaf. Terima kasih sudah menjadi adik, sahabat, teman yang tulus tanpa menuntut. Terima kasih sudah mengajarkan aku tentang berjuang. Terima kasih sudah menemaniku selama 21 tahun. Terima kasih untuk setiap tawa dan penghiburan darimu.

Peluk hangat Elisa untukku, Tuhan....

PS:
Klik link di bawah ini untuk tahu cerita lengkap tentang Elisa, Loetoengku..



Ruth Hutapea
15 November 2012 

Rabu, 12 September 2012

Antara Ego dan Rasa Sayang


Rasanya tidak perlu lagi membahas arti kata dalam judul artikel ini secara harafiah, berhubung bukan pelajaran Bahasa Indonesia, karena pasti panjang penjelasannya. –sebenarya sih ngeles karena lagi malas membahas tata bahasa- #upstsowri hehehehehe

Hidup ini pilihan, kalau kata orang-orang. Yaiyalah, pilihan itu kita sendiri yang membuatnya karena kita dianugerahi akal dan pikiran oleh Tuhan. Ada hukum sebab-akibat yang memunculkan pilihan langkah selanjutnya yang harus kita jalani. (agak-agak berat bahasanya di sini, gak usah terlalu ditanggepin yee).

Judul ini berkaitan dengan pengorbanan, baik itu mengorbankan ataupun dikorbankan. Ketika kita dihadapkan pada suatu keadaan yang mengharuskan kita memilih, kegalauan pun datang. Kita mempertimbangkan untuk tidak menyesal nanti dalam mengambil keputusan. Padahal keputusan apapun yang kita ambil, pasti akan memunculkan penyesalan. Hanya kadarnya saja yang berbeda.

Apa kalian pernah menghadapi pilihan antara mempertahankan ego dan pertimbangan rasa sayang kita. Sebelumnya, tidak selamanya kata ‘ego’ itu berarti buruk loh. Kita juga tidak boleh selalu mengutamakan kepentingan orang lain dibanding diri sendiri. Ada lagi kata orang-orang, cobalah mencintai diri sendiri. (makin bingung? Coba buka kamus atau Tanya Om Google). Tapi berhubung disandingkan dengan rasa sayang, kata ego cenderung berarti negative.

Ada bermacam situasi. Contohnya, antara ego untuk bermain di luar rumah bersama teman-teman dan mengobrol bersama keluarga di rumah saat kita kecil. Antara ego untuk menghabiskan waktu selalu hanya dengan pacar dan berbagi dengan sahabat, atau sebaliknya. Antara ego menghabiskan kue pemberian tetangga sendirian dibanding berbagi dan adik. Antara ego memilih kuliah jauh dari orang tua dan kuliah di dekat orang tua saat keadaan tidak mendukung. Antara LDR (Long Distance Relationship) atau SDR (Short Distance Relationship) saat akan kuliah. Atau antara ego berkarir dan mendampingi orang tua yang sedang sakit.

See, ego itu terlihat negative bukan???

Apa yang akan kamu lakukan ketika dihadapkan dengan situasi seperti itu? Memilih mempertahankan ego demi kepentingan diri sendiri atau membiarkan diri tenggelam di dalam rasa sayang. Secara rasional pilihan itu tergantung pada diri sendiri. Pengorbanan yang dilakukan harus sesuai. Ada pertimbangan kelayakan dan kewajaran dalam memilihnya. Haruskah mengorbankan masa depan demi cinta monyet? Haruskan mengorbankan masa depan demi orang tua? Pikirkan lagi sodara-sodara! (ala khotbah #eh)

Ijikan akal ambil bagian dalam mengambil keputusan selain menggunakan hati. Jika hanya mengandalkan hati, kegamangan saat menjalankan keputusan akan terasa dan cenderung diungkit-ungkit. Pertimbangan matang melibatkan hati dan pikiran maka seimbangkanlah.

Sebagai contoh, saat kamu dihadapkan pada situasi harus memilih berjuang mengejar karir atau menundanya untuk mendampingi orang yang kamu sayangi yang memang membutuhkan, apa yang kamu lakukan? Karir masih bisa dikejar nanti, dan dengan pasti kesempatan itu akan selalu datang. Bagaimana dengan mendampingi orang yang kamu sayang? Apakah nanti kesempatan itu masih bisa datang lagi? Pilihan mana yang menawarkan penyesalan dengan kadar paling sedikit? Pilihan ada di tangan Anda. (ala kuis-kuis di TV)

Saya pernah baca quote dari seorang teman di twitternya Mutia

“Ketika kamu dihadapkan harus memilih keluarga atau pekerjaan, satu hal yang harus diketahui, menyesal karena mengabaikan keluarga itu pasti lebih gak enak.”

Berhati-hati dan telitilah dalam menentukan pilihan hidup. Berdoalah untuk memperoleh jawaban yang meyakinkan diri.

Surat yang Tak Tersampaikan

Dear Pahlawan Wanitaku yang Paling Cantik,                 Aku bersenandung bersama isak pagi ini                 Terulang memori...